PENDIDIKAN BERKARAKTER, LANGKAH SIA-SIA

Berdasarkan Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 yang menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia, menunjukkan bahwa pemerintah bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Tidak ada yang dapat kita salahkan dari keputusan pemerintah tersebut. Namun, apakah keputusan itu sudah di analisis dan merupakan keputusan terbaik untuk mendidik bangsa? Hal ini perlu dipertanyakan karena beberapa faktor berikut ini.

Salah satu faktor yang dapat kita jadikan sebagai penentang Pendidikan berkarakter adalah sejarah bangsa kita sebagai bangsa yang dikenal dunia sebagai bangsa yang selalu ramah, sopan, taat akan adat maupun agama dan banyak lainnya. Sebagai bangsa yang dikenal “baik”, mengapa Indonesia tergopoh-gopoh untuk mencetak generasi yang sesuai dengan citra yang dikenal dunia? Tentunya ada alasan mengapa semua itu terjadi. Salah satu kemungkinan yang ada adalah beberapa fakta yang terjadi beberapa tahun terakhir. Maraknya korupsi, tawuran antar pelajar, kisruhnya berbagai demonstrasi, anarkisnya para pembela suatu golongan, serta berbagai kriminalitas yang terjadi, mulai dari pencopetan, pencurian, perampokan, pemerkosaan hingga pembunuhan menjadi sebuah alasan akan bobroknya moral di Indonesia. Dalam menghadapi masalah seperti ini, penerapan Pendidikan Berkarakter bukan menjadi suatu keputusan terbaik dalam mengatasi masalah ini. Sebagai salah satu bukti gagalnya Pendidikan Berkarakter adalah terjadinya berbagai tindak kekerasan pada pelajar-pelajar akhir-akhir ini.

Baca lebih lanjut

Iklan